Selasa, 28 September 2010

Persatuan dengan Shalat Berjamaah

Oleh : Anang Utama, S.Pd
Membina persatuan adalah sesuatu yang sangat urgen. Oleh karena pentingnya hal tersebut, Allah mengharuskan umatnya untuk mendirikan shalat bersama orang lain dalam satu masjid. Shalat berjamaah dimasjid merupakan salah satu tanda kekuatan persatuan umat Muslim. Ketika zaman para sahabat, umat Islam begitu tangguh dalam menghadapi lawannya, dan persatuan mereka sangat kokoh. Setelah diteliti mengapa keadaan mereka seperti itu, ternyata kekuatan tersebut salah satunya ditopang oleh persatuan dalam shalat berjamaah. Masjid menjadi symbol yang mempertautkan hati-hati mereka dengan kepatuhan yang teguh terhadap sang imam.
Disisi lain pada zaman setelah sahabat, golongan tabi’in juga tetap mempertahankan syari’at ini. Bahkan sampai berpuluh-puluh tahun banyak diantara mereka telah menjalankan shalat berjamaah tidak sampai ketinggalan takbir yang pertama. Shalahudin Al Ayyubi seorang pemimpin Islam yang menaklukan Yerusalem dengan penuh kedamaian ternyata juga mewajibkan para tentaranya untuk mendirikan shalat berjamaah, sehingga kekuatan mereka terlihat kokoh yang ditopang oleh persatuan shalat jamaah tersebut.
Allah berfirman :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah berserta orang-orang yang ruku’. (QS. Al Baqoroh 43).
Ayat tersebut menjelaskan secara tegas keharusan menjalankan shalat berjamaah tidak hanya sekedar menegakan shalat saja. Kata-kata ruku’ bersama dengan orang-orang yang ruku itu menggambarkan sebuah perpaduan seluruh kaum muslimin yang sedang menegakan shalat berjamaah. Dan hal ini sudah dicontohkan oleh generasi terbaik umat Islam.
Dalam ayat lain, Allah berfirman :
Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaknya segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pidah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang segolongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiaga dan menyandang senajata (QS. An Nisa :102).
Pada ayat diatas, Allah mewajibkan shalat berjamaah dalam keadaan perang penuh ketakutan. Kita bayangkan ketika perang berkecamuk, tentu setiap jiwa membutuhkan konsentrasi yang tinggi, karena setiap detik mereka lengah maka sambaran pedang akan mengenai tubuh. Setiap saat selalu dibutuhkan kewaspadaan yang tinggi, karena sewaktu-waktu musuh datang menyerang. Lalu bagaimanakah jika dalam keadaan damai, tentu kewajibannya akan lebih.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang buta yang berkata :” Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada orang yang menuntunku kemasjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat dirumahku? Maka Rasulullah SAW menjawab,” Apakah kamu mendengar seruan adzan?”, Orang itu menjawab : “ Ya”. Maka Nabi bersabda : “ Kalau begitu penuhi seruan itu”. (HR. Muslim).
Hadits diatas menjelaskan tentang shahabat Ibnu Umi Maktum yang penglihatannya buta, ternyata Rosulullah tetap memerintahkan beliau untuk menghadiri shalat berjamaah walaupun harus memakai tongkat atau mencari orang lain untuk menuntun ke masjid. Sahabat yang buta penglihatannya saja tetap datang memenuhi seruan adzan bagaimana kita yang normal penglihatannya.
Udzur meninggalkan Shalat berjamaah
Adanya udzur atau keringanan itu memberi penjelasan bahwa hukum Islam tidak memberatkan setiap pemeluknya. Seseorang yang mendapatkan udzur tentunya dia sedang mengalami suatu keadaan yang cukup menyulitkan, sebagai contoh ketika seseorang sedang bepergian jauh naik kendaraan, tentu dia akan mengalami hambatan untuk menghadiri shalat berjamaah karena masih berada dikendaraan umum, tidak tahu letak masjid, kecapaian, terburu-buru atau cemas dengan keamanan bara-barangnya.
Adapun keringanan-keringanan yang telah disyariatkan adalah sebagai berikut :
1. Takut atau sakit
Ibnu Abbas ditanya, “ Apakah udzur itu ?”. Ia menjawab,”Takut serangan musuh atau sakit”.
2. Cuaca sangat dingin atau hujan
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan adzan, lalu beliau bersabda, “Shalatlah kalian ditempat berteduh pada malam yang dingin atau ketika hujan deras dalam perjalanan. (HR. Bukhori Muslim)
3. Ketika dihadapkan sebuah hidangan makanan
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,”Jika salah seorang dari kalian dihadapkan pada hidangan (makanan), maka hendaklah ia tidak terburu-buru hingga selesai makannya meskipun shalat sudah didirikan”. (HR.Bukhari)
4. Kengininan buang hajat
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda, “Tidaklah sempurna shalat seseorang yang sedang menghadapi hidangan dan juga ketika menahan untuk buang hajat”. (HR Muslim)
5. Musafir
Faedah dan Maslahat Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah dimasjid memiliki banyak faedah dan maslahat yang jelas, diantaranya :
1. Saling ta’aruf (kenal)
Kehadiran kita dimasjid sangat memungkinkan untuk saling mengenal dengan saudara seiman. Beberapa orang yang berjauhan tempat tinggalnya bisa saling kenal bahkan jadi sahabat dekat jika mereka selalu hadir dalam jamaah shalat.
2. Saling tolong dalam kebajikan
Seringkali kita mengalami keadaan yang menyulitkan yang membutuhkan bantuan orang lain. Keadaan tersebut bisa teratasi karena kita memiliki banyak saudara, dan persaudaraan yang kuat adalah persaudaraan yang dilandasi oleh iman. Salah satunya adalah saudara sesama jamaah masjid.
3. Saling menasehati
Nasehat dari orang yang shaleh dan berilmu sangat dibutuhkan. Orang-orang shaleh dan berilmu hanya dijumpai dimasjid, karena mereka selalu mendirikan shalat berjamaah.
4. Memberi dorongan pada orang yang lalai
Setiap kali saudara kita tidak terlihat dalam jamaah masjid, tentu akan muncul keingin tahuan tentang keadaanya. Sehingga ini menjadi hal yang mendorong kita untuk mencari tahu dengan berkunjung, SMS atau menelpon, bertanya keorang lain, dll.
5. Mengajar pada orang yang bodoh
Tingkat pengetahuan seseorang berbeda-beda, dengan aktif berjamaah dimasjid sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan kita melalui kajian ilmu dimasjid, percakapan atau diskusi dengan sesama jamaah masjid, atau dengan membaca literature pustaka yang disediakan oleh masjid.
6. Membongkar kemarahan orang munafik dan menjauhi jalan mereka
Salah satu tanda orang munafik adalah enggan untuk menghadiri jamaah dimasjid terutama shalat Isya’ dan subuh. Hal ini tentu menjadi salah satu referensi untuk berhati-hati terhadap orang-orang munafik yang bisa dilihat tanda-tandanya melalui ketidak hadiran mereka masjid.
7. Menampakan syi’ar agama
Semakin ramai masjid karena hadirnya para jamaah, tentu menunjukan tingkat persatuan umat yang tinggi. Hal ini menjadi syiar Islam yang sangat baik bagi lingkungan.
8. Berdakwah dijalan Allah dengan lisan dan amal.
Dengan hadirnya kita dimasjid sangat memungkinkan untuk mengajak orang lain melalui perbuatan dan lisan kita. Perbuatan ditunjukan dengan aktifnya kita dimasjid sehingga orang lain akan penasaran untuk bertanya mengapa demikian. Atau melalui lisan yaitu dengan ceramah atau diskusi.
Setelah memahami kewajiban, udzur dan faedah dari shalat berjamaah maka tindakan kita selanjutnya adalah berusaha untuk menerapkan dan mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari dalam keadaan apapun diluar udzur syar’i. Sehingga harapan kita adalah tegaknya kemulian Islam dimuka bumi ini, dan kita menjadi salah satu bagian dari mereka yang berusaha kokoh untuk menjalankan syariat Allah dimuka bumi ini. Semoga bermanfaat.
Sumber : - Tsalats Rasa’il fis Shalah, karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
- Fiqhus Sunnah, Karya Muhammad Sayyid Sabiq.

Guruku

Guruku...
Engkau sangat di butuhkan
Oleh anak-anak
Untuk memberi Ilmu

Guruku...
Bila engkau tidak ada
Indonesia pasti tidak akan maju
Karena tidak ada penerus bangsa

Guruku...
Kau adalah Pahlawan Bangsa
Tanpa tanda jasa

By. Aisyah Qoulan Karima

Jumat, 27 Agustus 2010

SAHABAT SEJATIKU

Sahabat sejatiku....
Ku senang bersamamu...
Karena kau selalu menemaniku
Dalam suka dan duka

Kau membuatku bahagia...
Kaulah teman baikku...
Sahabatku... janganlah kau pergi dariku...

Sahabat sejatiku...
Janganlah kau bersedih
Karena aku akan menjagamu
Kenangan bersamamu
Akan ku kenang selalu...


Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO

KEINDAHAN ALAM

Pagi yang indah…
Menerangi hariku…
Matahari pagi,memancarkan sinarnya…

Malam yang hangat…
Menerangi alamnya…
Menghiasi malam,yang semakin gelap…
Beribu-ribu bintang menghiasi alam

Oh…sungguh indah alamku…
Yang selalu mempunyai keindahan dunia…
Alamku sungguh sempurna …
Mempunyai kelebihan indah…

Alamku adalah surgaku…
Berbagai makhluk hidup di dalamnya…
Kaulah ciptaan Tuhan yang sempurna.

Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO

Jumat, 06 Agustus 2010

Valentine Day’s? No Way!

Fara berjalan setengah berlari menuju rumahnya sambil meneteng kresek belanjaan yang ia beli di warungnya mbak Nia. Sebungkus garam, sebotol kecap bango, dan kartu valentine pesanan Britha, sahabat dekatnya.
“ Uh, si Britha aneh- aneh aja! Pesen kok kartu valentine,” gerutu Fara mengiringi perjalanannya ke rumah.
“Hoi Ra! Cariin ke mana aja taunya ada di sini, gimana siiih!” seru seseorang sambil menepuk pundak Fara. “Eh Britha, ni pesananmu,” kata Fara sambil menyerahkan kartu valentine yang tadi di belinya. “Ohya, thank’s ya, aku udah nuggu ini dari tadi lho! Aduh, kaulah bidadariku, muach!” Seru Britha sambil berlari meninggalkan Fara. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sobatnya itu.
Fara segera berjalan ke rumah ketika ia ingat sesuatu…Segera saja ia berbalik arah dan berjalan menuju Britha yang sedang berjalan riang.
“Ngng, Britha, aku mau nanya, ngapain sih kamu pesen kartu valentine ?” tanya Fara. Britha menengok ke belakang ketika mendengar suara yang sudah di kenalnya. “Oh, aku beli ini karena ingin ngasih kejutan buat pangeran ku,” kata Britha sambil tersenyum manis.
“Tapi dalam Islam kan nggak boleh merayakan hari valentine, apalagi dulunya tradisi valentine itu berawal dari orang-orang Romawi kuno, yang tentunya bukan orang muslim, iya kan? Dulu kita juga pernah diajarin sama uztadz-uztadzah,”kata Fara mengingatkan. “Ngng, tapi…,” kata Britha pelan.
“Ya udah deh, kamu nanti ke rumahku ya!” seru Fara. “Iya-iya, aku pulang dulu ya, bye!”seru Britha sambil berjalan menuju rumahnya yang arahnya berlawanan dengan arah rumah Fara. Begitu juga dengan Britha, Fara pun berjalan ke rumahnya.
“Fara, tuh taruh garam sama kecapnya di dapur,” suruh mbak Yasmin, kakak perempuannya yang sekarang sedang nonton acara musik dengan volume yang mungkin bisa bikin kalian tuli.
“Nyuruh-nyuruh aja, sendirinya enak-enak, bikin iri aja!” gerutu Fara pelan, lalu berjalan ke dapur. Di sana sudah ada bunda dengan senyum manisnya yang biasa.
“Ini garem sama kecapnya,” kata Fara sambil menaruh kresek di meja makan.
“Eh Fara, itu ada Britha, samperin tuh!” seru mbak Yasmin, volumenya tidak sekeras yang tadi.
Dengan secepat kilat, Fara pun berjalan ke luar dan mempersilahkan Britha masuk.
“Ada apa sih Ra, kok ngajak aku ke sini?” tanya Britha sambil menyeruput teh yang di hidangkan. “Aku mau ngasih tahu sesuatu, ada acara tv yang bagus banget! Mau nonton?” tawar Fara. “kalau bagus, boleh deh,” kata Britha. Fara tersenyum.
“Tunggu ya, tuh mbak Yasmin masih nonton tv,” kata Fara sambil menunjuk-nunjuk mbak Yasmin.
Tit. Televisi di matikan oleh mbak Yasmin. “Udah ah, mau facebook-an,” kata mbak Yasmin, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Nah, tuh udah kabur tuh, yuk kita nonton!” ajak Fara yang langsung semangat menyalakan televisi kembali. Britha hanya membetulkan posisi duduknya ketika Fara menyalakan televisi.
Acara bertajuk Bengkel Hati itu kini mereka tonton. Temanya adalah menyikapi hari valentine sebagai seorang muslim. Fara sudah bertekad mengajak Britha menonton acara ini waktu dia memesan kartu valentine padanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah Britha yang merona merah melihat acara itu.
“Gimana Britha, bagus kan?” tanya Fara ketika acara itu selesai. “Bagus banget euy!” seru Britha sambil menepuk pundak Fara.
Tiba-tiba Fara tersenyum.”Eh Britha, aku puny ide,”kata Fara, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Britha. Senyum merekah di bibir Britha ketika Fara selesai membisikkan idenya itu. Segera saja Britha dan Fara berlari menuju kamar Fara. Mereka mengambil kertas karton pink dan spidol hitam, lalu mulai menulis di atas kertas karton itu.
Kalian ingin tahu apa yang ditulis Britha dan Fara di atas kertas karton itu?
Valentine day’s? no Way!

Karya : Sarah Amany Wisista
Kelas : VI Responship SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02

Rumah Pohon Penyelamat

Ada sebuah perumahan di kota Jakarta. Disana tinggal-lah seorang anak yang bernama Cilcia. Cilcia tinggal bersama bundanya yang bernama Puji.
Pada suatu hari, saat Cilcia sedang melamun, hujan turun dengan sangat deras. Cilcia segera membangunkan bundanya yang sedang tertidur pulas.
“Bunda..bangun!”kata Cilcia.
“Iyaa, memangnya kenapa?”tanya bunda dengan setengah tidur.
“Hujan turun, Cilcia takut kalau nanti banjir”jawab Cilcia.
“Oh, kalau begitu tolong selamatkan barang-barangmu yang paling berharga”kata bunda lagi.
“Sip bunda!”jawab Cilcia.
Satu jam kemudian, hujan masih belum reda. Tiba-tiba ada seorang warga yang berteriak.
“Banjir!Banjir!”
Aku segera keluar dari rumah dan naik ke rumah pohon yang berada di sebelah rumahku. Aku pun mengajak bunda untuk naik ke rumah pohon. Beberapa jam kemudian, akhirnya banjir pun mulai surut. Aku segera keluar dari rumah dan membantu bunda mengepel lantai rumahku.
“Cilcia, untung kamu mengingatkan bunda”kata bunda sambil mengepel lantai yang kotor bekas terkena banjir.
“Iya bun, tapi aku juga kasian sama orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri”kata Cilcia.
“Tapi kita selamat karena ada rumah pohon”kata bunda.
“Karena Allah swt bun, baru rumah pohon”kata Cilcia mengoreksi kalimat bundanya.
“Oh iya ya Cil”kata bunda sambil menepuk dahinya.
Akhirnya merekapun tertawa bersama-sama sambil melanjutkan mengepel lantai rumahnya yang sangat berantakan itu. (Aisyah Qoulan S)