Ada sebuah perumahan di kota Jakarta. Disana tinggal-lah seorang anak yang bernama Cilcia. Cilcia tinggal bersama bundanya yang bernama Puji.
Pada suatu hari, saat Cilcia sedang melamun, hujan turun dengan sangat deras. Cilcia segera membangunkan bundanya yang sedang tertidur pulas.
“Bunda..bangun!”kata Cilcia.
“Iyaa, memangnya kenapa?”tanya bunda dengan setengah tidur.
“Hujan turun, Cilcia takut kalau nanti banjir”jawab Cilcia.
“Oh, kalau begitu tolong selamatkan barang-barangmu yang paling berharga”kata bunda lagi.
“Sip bunda!”jawab Cilcia.
Satu jam kemudian, hujan masih belum reda. Tiba-tiba ada seorang warga yang berteriak.
“Banjir!Banjir!”
Aku segera keluar dari rumah dan naik ke rumah pohon yang berada di sebelah rumahku. Aku pun mengajak bunda untuk naik ke rumah pohon. Beberapa jam kemudian, akhirnya banjir pun mulai surut. Aku segera keluar dari rumah dan membantu bunda mengepel lantai rumahku.
“Cilcia, untung kamu mengingatkan bunda”kata bunda sambil mengepel lantai yang kotor bekas terkena banjir.
“Iya bun, tapi aku juga kasian sama orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri”kata Cilcia.
“Tapi kita selamat karena ada rumah pohon”kata bunda.
“Karena Allah swt bun, baru rumah pohon”kata Cilcia mengoreksi kalimat bundanya.
“Oh iya ya Cil”kata bunda sambil menepuk dahinya.
Akhirnya merekapun tertawa bersama-sama sambil melanjutkan mengepel lantai rumahnya yang sangat berantakan itu. (Aisyah Qoulan S)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar