Jumat, 27 Agustus 2010

SAHABAT SEJATIKU

Sahabat sejatiku....
Ku senang bersamamu...
Karena kau selalu menemaniku
Dalam suka dan duka

Kau membuatku bahagia...
Kaulah teman baikku...
Sahabatku... janganlah kau pergi dariku...

Sahabat sejatiku...
Janganlah kau bersedih
Karena aku akan menjagamu
Kenangan bersamamu
Akan ku kenang selalu...


Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO

KEINDAHAN ALAM

Pagi yang indah…
Menerangi hariku…
Matahari pagi,memancarkan sinarnya…

Malam yang hangat…
Menerangi alamnya…
Menghiasi malam,yang semakin gelap…
Beribu-ribu bintang menghiasi alam

Oh…sungguh indah alamku…
Yang selalu mempunyai keindahan dunia…
Alamku sungguh sempurna …
Mempunyai kelebihan indah…

Alamku adalah surgaku…
Berbagai makhluk hidup di dalamnya…
Kaulah ciptaan Tuhan yang sempurna.

Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO

Jumat, 06 Agustus 2010

Valentine Day’s? No Way!

Fara berjalan setengah berlari menuju rumahnya sambil meneteng kresek belanjaan yang ia beli di warungnya mbak Nia. Sebungkus garam, sebotol kecap bango, dan kartu valentine pesanan Britha, sahabat dekatnya.
“ Uh, si Britha aneh- aneh aja! Pesen kok kartu valentine,” gerutu Fara mengiringi perjalanannya ke rumah.
“Hoi Ra! Cariin ke mana aja taunya ada di sini, gimana siiih!” seru seseorang sambil menepuk pundak Fara. “Eh Britha, ni pesananmu,” kata Fara sambil menyerahkan kartu valentine yang tadi di belinya. “Ohya, thank’s ya, aku udah nuggu ini dari tadi lho! Aduh, kaulah bidadariku, muach!” Seru Britha sambil berlari meninggalkan Fara. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sobatnya itu.
Fara segera berjalan ke rumah ketika ia ingat sesuatu…Segera saja ia berbalik arah dan berjalan menuju Britha yang sedang berjalan riang.
“Ngng, Britha, aku mau nanya, ngapain sih kamu pesen kartu valentine ?” tanya Fara. Britha menengok ke belakang ketika mendengar suara yang sudah di kenalnya. “Oh, aku beli ini karena ingin ngasih kejutan buat pangeran ku,” kata Britha sambil tersenyum manis.
“Tapi dalam Islam kan nggak boleh merayakan hari valentine, apalagi dulunya tradisi valentine itu berawal dari orang-orang Romawi kuno, yang tentunya bukan orang muslim, iya kan? Dulu kita juga pernah diajarin sama uztadz-uztadzah,”kata Fara mengingatkan. “Ngng, tapi…,” kata Britha pelan.
“Ya udah deh, kamu nanti ke rumahku ya!” seru Fara. “Iya-iya, aku pulang dulu ya, bye!”seru Britha sambil berjalan menuju rumahnya yang arahnya berlawanan dengan arah rumah Fara. Begitu juga dengan Britha, Fara pun berjalan ke rumahnya.
“Fara, tuh taruh garam sama kecapnya di dapur,” suruh mbak Yasmin, kakak perempuannya yang sekarang sedang nonton acara musik dengan volume yang mungkin bisa bikin kalian tuli.
“Nyuruh-nyuruh aja, sendirinya enak-enak, bikin iri aja!” gerutu Fara pelan, lalu berjalan ke dapur. Di sana sudah ada bunda dengan senyum manisnya yang biasa.
“Ini garem sama kecapnya,” kata Fara sambil menaruh kresek di meja makan.
“Eh Fara, itu ada Britha, samperin tuh!” seru mbak Yasmin, volumenya tidak sekeras yang tadi.
Dengan secepat kilat, Fara pun berjalan ke luar dan mempersilahkan Britha masuk.
“Ada apa sih Ra, kok ngajak aku ke sini?” tanya Britha sambil menyeruput teh yang di hidangkan. “Aku mau ngasih tahu sesuatu, ada acara tv yang bagus banget! Mau nonton?” tawar Fara. “kalau bagus, boleh deh,” kata Britha. Fara tersenyum.
“Tunggu ya, tuh mbak Yasmin masih nonton tv,” kata Fara sambil menunjuk-nunjuk mbak Yasmin.
Tit. Televisi di matikan oleh mbak Yasmin. “Udah ah, mau facebook-an,” kata mbak Yasmin, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Nah, tuh udah kabur tuh, yuk kita nonton!” ajak Fara yang langsung semangat menyalakan televisi kembali. Britha hanya membetulkan posisi duduknya ketika Fara menyalakan televisi.
Acara bertajuk Bengkel Hati itu kini mereka tonton. Temanya adalah menyikapi hari valentine sebagai seorang muslim. Fara sudah bertekad mengajak Britha menonton acara ini waktu dia memesan kartu valentine padanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah Britha yang merona merah melihat acara itu.
“Gimana Britha, bagus kan?” tanya Fara ketika acara itu selesai. “Bagus banget euy!” seru Britha sambil menepuk pundak Fara.
Tiba-tiba Fara tersenyum.”Eh Britha, aku puny ide,”kata Fara, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Britha. Senyum merekah di bibir Britha ketika Fara selesai membisikkan idenya itu. Segera saja Britha dan Fara berlari menuju kamar Fara. Mereka mengambil kertas karton pink dan spidol hitam, lalu mulai menulis di atas kertas karton itu.
Kalian ingin tahu apa yang ditulis Britha dan Fara di atas kertas karton itu?
Valentine day’s? no Way!

Karya : Sarah Amany Wisista
Kelas : VI Responship SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02

Rumah Pohon Penyelamat

Ada sebuah perumahan di kota Jakarta. Disana tinggal-lah seorang anak yang bernama Cilcia. Cilcia tinggal bersama bundanya yang bernama Puji.
Pada suatu hari, saat Cilcia sedang melamun, hujan turun dengan sangat deras. Cilcia segera membangunkan bundanya yang sedang tertidur pulas.
“Bunda..bangun!”kata Cilcia.
“Iyaa, memangnya kenapa?”tanya bunda dengan setengah tidur.
“Hujan turun, Cilcia takut kalau nanti banjir”jawab Cilcia.
“Oh, kalau begitu tolong selamatkan barang-barangmu yang paling berharga”kata bunda lagi.
“Sip bunda!”jawab Cilcia.
Satu jam kemudian, hujan masih belum reda. Tiba-tiba ada seorang warga yang berteriak.
“Banjir!Banjir!”
Aku segera keluar dari rumah dan naik ke rumah pohon yang berada di sebelah rumahku. Aku pun mengajak bunda untuk naik ke rumah pohon. Beberapa jam kemudian, akhirnya banjir pun mulai surut. Aku segera keluar dari rumah dan membantu bunda mengepel lantai rumahku.
“Cilcia, untung kamu mengingatkan bunda”kata bunda sambil mengepel lantai yang kotor bekas terkena banjir.
“Iya bun, tapi aku juga kasian sama orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri”kata Cilcia.
“Tapi kita selamat karena ada rumah pohon”kata bunda.
“Karena Allah swt bun, baru rumah pohon”kata Cilcia mengoreksi kalimat bundanya.
“Oh iya ya Cil”kata bunda sambil menepuk dahinya.
Akhirnya merekapun tertawa bersama-sama sambil melanjutkan mengepel lantai rumahnya yang sangat berantakan itu. (Aisyah Qoulan S)