Jumat, 20 November 2009

Sarangan Adventure…It’s Wonderfull

Sarangan Adventure…It’s Wonderfull
(By. Anang Utama, S.Pd)

Selasa 23 Juni 2009. Sebuah Sepeda motor Honda New Supra Fit keluaran 2005, meluncur dengan santai menapaki jalanan hot mix yang lengang dan sejuk di pegunungan Lawu. Sepasang suami istri tampak menikmati suasana tersebut. Sesekali terdengar canda tawa yang segar, “Bi..pelan-pelan yaa Bi, kita nikmati suasana yang sejuk dan menyegarkan ini”.
Motor tersebut melaju terus melalui jalan menanjak yang melingkar seperti layaknya seokor ular raksasa. Pada sisi jalan terdapat rangkaian pohon cemara yang menjuntai dan berkibar diterpa sejuknya sang bayu yang berhembus semilir diantara celah ranting dan dedaunan. Hmm…Subhanallah…terasa semakin indah ketika terhampar sebuah ngarai tinggi dengan rimbun kehijauan dan hamparan kota Solo nun jauh dibawah, disertai rangkaian pegunungan sang Merbabu yang menghijau dan Merapi yang memerah karena kumpulan lahar keaktifannya akhir-akhir ini. Hhmm…Its wonderful…Allahu a Great….Allah Has Given Us Much Enjoynment.
Persneleng gigi roda berubah pada speed tiga dan mampu membawa motor beserta penumpangnya berjalan menanjak. Sang motor terlihat cukup tangguh dengan mesin 100 ccnya yang telah teruji berkali-kali perjalanan Solo-Purwokerto berjarak sekitar 250 Km. Vila-vila Tawang Mangu mulai menyembul diatas perbukitan dengan berbagai model yang menawarkan kesan eksotisnya.
Melalui kota Tawangmangu yang dingin dan berkabut, dengan nuansa kemerahan pada wajah para penghuninya akibat menahan hawa dingin selama hidupnya. Keadaan tersebut memberikan rasa kedamaian dalam hati dengan suasana naturalis yang selalu tertegun dan termangu atas kebesaran Sang Pencipta. Disebelah Timur Menjulang dengah gagahnya Argo Lawu yang terselimuti awan tebal memberikan suasana redup pada pukul 13.30 WIB.
Keadaan jalan terus menanjak, tanpa sadar jurus pamungkas sang motor dikeluarkan pada speed satu. Kondisi jalan sangat menanjak mendekati 40 derajat. Jantung hati kebat-kebit, sebuah new experience melalui medan yang super menantang. Spedo meter menunjukan angka 20 km/jam…ooo sangat lambat dan semakin berkurang mendekati angka 15 Km/jam dengan getaran mesin yang semakin terasa, tetapi masih berenergi. Jalanan berubah menyempit dengan tipe B (4 meter) semakin naik dan naik, ….ooo….seramm.
Sampai pada titik puncak ketinggian jalan, diantara keraguan apakah diteruskan atau kembali, jika kembali berarti kehilangan salah satu tantangan untuk mecapai tujuan. Jika diteruskan, terlihat medan yang lebih menantang yang membuat hati berdegup kencang. Ya Allah… kuatkan hati untuk meneruskan perjalananan ini dan merasakan betapa indahnya keagungan penciptaan-Mu.
Dengan kemantapan hati, diteruskanlah perjalanan indah dan menantang ini. Jalanan menurun 40 derajat sangat terjal, berliku seperti kelok keris. Suara sendawa sang istri berkali-kali, sebagai tanda mabuk perjalanan. Semakin turun dan terjal, semakin berdegup kencang dengan bayangan seandainya rem blong atau rantai putus… ya Allah. Speed turun kegigi satu, kekang rem semakin kuat, terdengar bunyi berdecit dari rem depan dan belakang yang menandakan semakin berkurangnya kampas rem. Suara mesin menggeram kencang diselingi teriakan sang istri, membuat suasana kaget dan tegang. Dzikir hati bertambah kuat, ya Allah..ya Allah…selamatkan perjalanan ini.
Sedikit terhibur, ketika beberapa sepeda motor jenis kharisma dan supra X cc 125 lewat dengan cukup lincah. Terbersit dalam pikiran, “mereka saja berani kenapa aku tidak…harus berani…harus berani”. Tetapi pikiran tegang kembali datang karena terbersit dalam hati, “lho…mereka orang daerah sini, otomatis tahu medannya..”.
Akhirnya dengan semangat penuh keberanian, sepeda motor tetap melaju dengan hati-hati dan waspada serta konsentrasi penuh melewati turunan terakhir yang super terjal dan berbahaya. Kemudian sampailah ditempat tujuan dan terbentanglah pemandangan Sarangan yang eksotis.
Sebuah telaga berwarna biru kehitaman dengan keliling sekitar 2 km. Disepanjang telaga tampak berjajar tenda-tenda kecil para penjaja sate kelinci yang menawarkan berbagai trik kenikmatannya. Dipinggir telaga banyak terdapat perahu wisatawan dan speed boat carteran yang kelihatannya cukup menarik dan digemari para pengunjung. Para pedagang souvenir dan makanan khas berjajar dikios-kios sepanjang garis pintu masuk dan keluar. Rimbunan hutan dan sebuah pulau kecil ditengah telaga menambah sejuk dan indah suasana pukul 14.00 WIB tersebut. Haaahhh…desahan keluar diselingi uap yang keluar dari mulut, menandakan rasa dingin sejuk saat itu. Dua porsi sate kelinci dengan harga 6000 rupiah tiap porsi disantap habis dengan kenikmatan yang luar biasa. Hangat, enak, lapar, takjub, gembira bercampur menjadi satu.
Berputar-butar disekitar telaga sambil mengabadikan berbagai pose berlatar belakang keindahan alam telaga Sarangan, membuat lupa bahwa waktu semakin merambat mendekati Ashar. Kemudian tersadar ketika kamera HP Nokia 1680 menunjukan tanda penuh sampai 58 gambar foto. Perjalanan dilanjutkan menuju ke kios makanan dan cenderamata, membeli oleh-oleh untuk buah hati tercinta.
Perjalanan pulang menuju ke kota Solo dilalui dengan memutar melalui kota Magetan, Ngawi dan Sragen. Perjalanan memberikan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari semangat menghadapi tantangan perjalanan, menikmati keagungan penciptaan Allah, berlibur, refreshing, uji ketangguhan sepeda motor, sampai mengenal daerah yang belum terjamah oleh badan ini.
New Supra Fit 100 cc terus melaju memasuki gerbang kota Solo tepat pukul 19.30. Sepedo meter menunjukan bahwa perjalanan telah menempuh jarak hampir 180 km dan telah menghabiskan bahan bakar sekitar tiga liter bensin. Alhamdulillah… tampak jembatan Bengawan Solo ada didepan mata. Sebuah pengalaman holiday yang tak terlupakan dan memberikan kesan tersendiri untuk diambil manfaatnya. Sebuah kesuksesan dapat diraih jika ada usaha dan semangat pantang menyerah disertai dengan doa kepada sang pencipta(Anang).

Jumat, 16 Oktober 2009

Hayooo ...! Makanya, Jangan Berebut!

Ada tiga orang anak bernama Wida, Lira, dan Mita. Mereka adalah saudara kandung. Wida anak pertama, Lira anak kedua, dan Mita anak terkahir.
Wida dan Lira sering sekali menghina Mita, dan tak memperbolehkan Mita ikut main dalam permainan-permainan mereka. Kata Wida dan Lira, Mita masih terlalu kecil. Padahal, Mita hanya berbeda dua tahun dengan Lira.
Suatu saat, Wida, Lira, dan Mita sedang berjalan-jalan. Sebenarnya, Mita tidak boleh ikut jalan-jalan oleh Wida dan Lira, tapi kalau Mita tidak diperbolehkan ikut, Bunda pasti marah. Terpaksa deh, Wida dan Lira memperbolehkan Mita ikut.
Di perjalanan, Mita menemukan seekor kucing kecil yang lucu dan imut-imut. Mita mendekati kucing itu, lalu membelai kepala kucing kecil itu. Kucing yang di temukan Mita mendekati Mita perlahan-lahan. Mita tersenyum pada kucing lucu itu.
Kucing yang di temukan Mita itu tubuhnya kurus kecil, bulunya lebat (tapi bukan kucing angora), dan wajahnya imut-imut lucu.
"Kak Wida, Kak Liraaa ...!" Mita memanggil kedua kakaknya.
Wida dan Lira menghampiri Mita.
"Ada apa sih?" tanya Wida sebal.
"Aku menemukan kucing, Kak!" jawab Mita riang.
"Iiih ... lucu banget! Pasti kucing ini akan jadi milikku!" seru Lira sambil membelai kucing itu.
"Tidak, Lira! Aku yang paling tua! Kucing ini akan jadi milikku!" Wida tak mau kalah.
Mita hanya memandang Wida dan Lira tak berkedip. Akhirnya, Wida dan Lira bertengkar serta berebutan.
"Kucing itu milikku!" seru Lira.
"Tidak, dia milikku!" elak Wida.
"Enak saja! Itu kucing milikku!" marah Lira.
"Milikku!" seru Wida.
"Itu milikku!"
"Milikku!"
"Milikku, Lira! Sudah cukup, titik! Kucing itu milikku!"
Wida dan Lira terus saja berebutan, sementara si kucing lucu itu merapat ke kaki Mita. Mita menggendong kucing itu, lalu membawanya pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian setelah Mita pulang ke rumah, Wida dan Lira berhenti bertengkar dan berebutan. Mereka menengok ke arah Mita tadi berada.
"Wah! Mita hilang!" pekik Lira.
"Dan kucing itu! Kucing itu pasti dibawa Mita! Dasar Mita-Cengeng-Jelek-Banget!" hina Wida.
Lalu, Wida dan Lira pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Bunda memarahi Wida dan Lira.
"Mengapa kalian bertengkar dan berebutan?!" tanya Bunda marah.
"Kucing itu milikku, Bunda!" jawab Lira.
"Bukan, milikku!" seru Wida.
Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya. Beliau menatap Mita yang sedang asyik bermain bersama si kucing.
"Anak-anak, asal kalian tahu, ya. Kucing itu milik Mita. Kan, Mita yang menemukan. Kucing itu juga senang pada Mita." Kata Bunda. "Nah, kan. Makanya, jangan berebutan!"
"Kak, sini Kak, main sama Kulu. Kulu nama kucingnya. Kak, kucing ini milik kita bertiga, kok!" seru Mita tiba-tiba.
"Nah, kan. Mita baik. Minta maaf sama Mita, sana!" suruh Bunda.
Wida dan Lira segera minta maaf pada Mita. Mita memaafkan, bahkan kata Mita, ia tak dendam pada kedua kakaknya.
Akhirnya, Wida, Lira, dan Mita bermain bersama Kulu dengan senang, asyik, dan bahagia.

Karya:Alsyabilla S. Virenlish