Guruku...
Engkau sangat di butuhkan
Oleh anak-anak
Untuk memberi Ilmu
Guruku...
Bila engkau tidak ada
Indonesia pasti tidak akan maju
Karena tidak ada penerus bangsa
Guruku...
Kau adalah Pahlawan Bangsa
Tanpa tanda jasa
By. Aisyah Qoulan Karima
Selasa, 28 September 2010
Jumat, 27 Agustus 2010
SAHABAT SEJATIKU
Sahabat sejatiku....
Ku senang bersamamu...
Karena kau selalu menemaniku
Dalam suka dan duka
Kau membuatku bahagia...
Kaulah teman baikku...
Sahabatku... janganlah kau pergi dariku...
Sahabat sejatiku...
Janganlah kau bersedih
Karena aku akan menjagamu
Kenangan bersamamu
Akan ku kenang selalu...
Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO
Ku senang bersamamu...
Karena kau selalu menemaniku
Dalam suka dan duka
Kau membuatku bahagia...
Kaulah teman baikku...
Sahabatku... janganlah kau pergi dariku...
Sahabat sejatiku...
Janganlah kau bersedih
Karena aku akan menjagamu
Kenangan bersamamu
Akan ku kenang selalu...
Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO
KEINDAHAN ALAM
Pagi yang indah…
Menerangi hariku…
Matahari pagi,memancarkan sinarnya…
Malam yang hangat…
Menerangi alamnya…
Menghiasi malam,yang semakin gelap…
Beribu-ribu bintang menghiasi alam
Oh…sungguh indah alamku…
Yang selalu mempunyai keindahan dunia…
Alamku sungguh sempurna …
Mempunyai kelebihan indah…
Alamku adalah surgaku…
Berbagai makhluk hidup di dalamnya…
Kaulah ciptaan Tuhan yang sempurna.
Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO
Menerangi hariku…
Matahari pagi,memancarkan sinarnya…
Malam yang hangat…
Menerangi alamnya…
Menghiasi malam,yang semakin gelap…
Beribu-ribu bintang menghiasi alam
Oh…sungguh indah alamku…
Yang selalu mempunyai keindahan dunia…
Alamku sungguh sempurna …
Mempunyai kelebihan indah…
Alamku adalah surgaku…
Berbagai makhluk hidup di dalamnya…
Kaulah ciptaan Tuhan yang sempurna.
Karya : Devita Rahma Fadhila
Class III Abu bakar Ash sidi
SD O2 AL IRSYAD AL ISLAMIYAH
PURWOKERTO
Jumat, 06 Agustus 2010
Valentine Day’s? No Way!
Fara berjalan setengah berlari menuju rumahnya sambil meneteng kresek belanjaan yang ia beli di warungnya mbak Nia. Sebungkus garam, sebotol kecap bango, dan kartu valentine pesanan Britha, sahabat dekatnya.
“ Uh, si Britha aneh- aneh aja! Pesen kok kartu valentine,” gerutu Fara mengiringi perjalanannya ke rumah.
“Hoi Ra! Cariin ke mana aja taunya ada di sini, gimana siiih!” seru seseorang sambil menepuk pundak Fara. “Eh Britha, ni pesananmu,” kata Fara sambil menyerahkan kartu valentine yang tadi di belinya. “Ohya, thank’s ya, aku udah nuggu ini dari tadi lho! Aduh, kaulah bidadariku, muach!” Seru Britha sambil berlari meninggalkan Fara. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sobatnya itu.
Fara segera berjalan ke rumah ketika ia ingat sesuatu…Segera saja ia berbalik arah dan berjalan menuju Britha yang sedang berjalan riang.
“Ngng, Britha, aku mau nanya, ngapain sih kamu pesen kartu valentine ?” tanya Fara. Britha menengok ke belakang ketika mendengar suara yang sudah di kenalnya. “Oh, aku beli ini karena ingin ngasih kejutan buat pangeran ku,” kata Britha sambil tersenyum manis.
“Tapi dalam Islam kan nggak boleh merayakan hari valentine, apalagi dulunya tradisi valentine itu berawal dari orang-orang Romawi kuno, yang tentunya bukan orang muslim, iya kan? Dulu kita juga pernah diajarin sama uztadz-uztadzah,”kata Fara mengingatkan. “Ngng, tapi…,” kata Britha pelan.
“Ya udah deh, kamu nanti ke rumahku ya!” seru Fara. “Iya-iya, aku pulang dulu ya, bye!”seru Britha sambil berjalan menuju rumahnya yang arahnya berlawanan dengan arah rumah Fara. Begitu juga dengan Britha, Fara pun berjalan ke rumahnya.
“Fara, tuh taruh garam sama kecapnya di dapur,” suruh mbak Yasmin, kakak perempuannya yang sekarang sedang nonton acara musik dengan volume yang mungkin bisa bikin kalian tuli.
“Nyuruh-nyuruh aja, sendirinya enak-enak, bikin iri aja!” gerutu Fara pelan, lalu berjalan ke dapur. Di sana sudah ada bunda dengan senyum manisnya yang biasa.
“Ini garem sama kecapnya,” kata Fara sambil menaruh kresek di meja makan.
“Eh Fara, itu ada Britha, samperin tuh!” seru mbak Yasmin, volumenya tidak sekeras yang tadi.
Dengan secepat kilat, Fara pun berjalan ke luar dan mempersilahkan Britha masuk.
“Ada apa sih Ra, kok ngajak aku ke sini?” tanya Britha sambil menyeruput teh yang di hidangkan. “Aku mau ngasih tahu sesuatu, ada acara tv yang bagus banget! Mau nonton?” tawar Fara. “kalau bagus, boleh deh,” kata Britha. Fara tersenyum.
“Tunggu ya, tuh mbak Yasmin masih nonton tv,” kata Fara sambil menunjuk-nunjuk mbak Yasmin.
Tit. Televisi di matikan oleh mbak Yasmin. “Udah ah, mau facebook-an,” kata mbak Yasmin, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Nah, tuh udah kabur tuh, yuk kita nonton!” ajak Fara yang langsung semangat menyalakan televisi kembali. Britha hanya membetulkan posisi duduknya ketika Fara menyalakan televisi.
Acara bertajuk Bengkel Hati itu kini mereka tonton. Temanya adalah menyikapi hari valentine sebagai seorang muslim. Fara sudah bertekad mengajak Britha menonton acara ini waktu dia memesan kartu valentine padanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah Britha yang merona merah melihat acara itu.
“Gimana Britha, bagus kan?” tanya Fara ketika acara itu selesai. “Bagus banget euy!” seru Britha sambil menepuk pundak Fara.
Tiba-tiba Fara tersenyum.”Eh Britha, aku puny ide,”kata Fara, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Britha. Senyum merekah di bibir Britha ketika Fara selesai membisikkan idenya itu. Segera saja Britha dan Fara berlari menuju kamar Fara. Mereka mengambil kertas karton pink dan spidol hitam, lalu mulai menulis di atas kertas karton itu.
Kalian ingin tahu apa yang ditulis Britha dan Fara di atas kertas karton itu?
Valentine day’s? no Way!
Karya : Sarah Amany Wisista
Kelas : VI Responship SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02
“ Uh, si Britha aneh- aneh aja! Pesen kok kartu valentine,” gerutu Fara mengiringi perjalanannya ke rumah.
“Hoi Ra! Cariin ke mana aja taunya ada di sini, gimana siiih!” seru seseorang sambil menepuk pundak Fara. “Eh Britha, ni pesananmu,” kata Fara sambil menyerahkan kartu valentine yang tadi di belinya. “Ohya, thank’s ya, aku udah nuggu ini dari tadi lho! Aduh, kaulah bidadariku, muach!” Seru Britha sambil berlari meninggalkan Fara. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sobatnya itu.
Fara segera berjalan ke rumah ketika ia ingat sesuatu…Segera saja ia berbalik arah dan berjalan menuju Britha yang sedang berjalan riang.
“Ngng, Britha, aku mau nanya, ngapain sih kamu pesen kartu valentine ?” tanya Fara. Britha menengok ke belakang ketika mendengar suara yang sudah di kenalnya. “Oh, aku beli ini karena ingin ngasih kejutan buat pangeran ku,” kata Britha sambil tersenyum manis.
“Tapi dalam Islam kan nggak boleh merayakan hari valentine, apalagi dulunya tradisi valentine itu berawal dari orang-orang Romawi kuno, yang tentunya bukan orang muslim, iya kan? Dulu kita juga pernah diajarin sama uztadz-uztadzah,”kata Fara mengingatkan. “Ngng, tapi…,” kata Britha pelan.
“Ya udah deh, kamu nanti ke rumahku ya!” seru Fara. “Iya-iya, aku pulang dulu ya, bye!”seru Britha sambil berjalan menuju rumahnya yang arahnya berlawanan dengan arah rumah Fara. Begitu juga dengan Britha, Fara pun berjalan ke rumahnya.
“Fara, tuh taruh garam sama kecapnya di dapur,” suruh mbak Yasmin, kakak perempuannya yang sekarang sedang nonton acara musik dengan volume yang mungkin bisa bikin kalian tuli.
“Nyuruh-nyuruh aja, sendirinya enak-enak, bikin iri aja!” gerutu Fara pelan, lalu berjalan ke dapur. Di sana sudah ada bunda dengan senyum manisnya yang biasa.
“Ini garem sama kecapnya,” kata Fara sambil menaruh kresek di meja makan.
“Eh Fara, itu ada Britha, samperin tuh!” seru mbak Yasmin, volumenya tidak sekeras yang tadi.
Dengan secepat kilat, Fara pun berjalan ke luar dan mempersilahkan Britha masuk.
“Ada apa sih Ra, kok ngajak aku ke sini?” tanya Britha sambil menyeruput teh yang di hidangkan. “Aku mau ngasih tahu sesuatu, ada acara tv yang bagus banget! Mau nonton?” tawar Fara. “kalau bagus, boleh deh,” kata Britha. Fara tersenyum.
“Tunggu ya, tuh mbak Yasmin masih nonton tv,” kata Fara sambil menunjuk-nunjuk mbak Yasmin.
Tit. Televisi di matikan oleh mbak Yasmin. “Udah ah, mau facebook-an,” kata mbak Yasmin, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Nah, tuh udah kabur tuh, yuk kita nonton!” ajak Fara yang langsung semangat menyalakan televisi kembali. Britha hanya membetulkan posisi duduknya ketika Fara menyalakan televisi.
Acara bertajuk Bengkel Hati itu kini mereka tonton. Temanya adalah menyikapi hari valentine sebagai seorang muslim. Fara sudah bertekad mengajak Britha menonton acara ini waktu dia memesan kartu valentine padanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah Britha yang merona merah melihat acara itu.
“Gimana Britha, bagus kan?” tanya Fara ketika acara itu selesai. “Bagus banget euy!” seru Britha sambil menepuk pundak Fara.
Tiba-tiba Fara tersenyum.”Eh Britha, aku puny ide,”kata Fara, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Britha. Senyum merekah di bibir Britha ketika Fara selesai membisikkan idenya itu. Segera saja Britha dan Fara berlari menuju kamar Fara. Mereka mengambil kertas karton pink dan spidol hitam, lalu mulai menulis di atas kertas karton itu.
Kalian ingin tahu apa yang ditulis Britha dan Fara di atas kertas karton itu?
Valentine day’s? no Way!
Karya : Sarah Amany Wisista
Kelas : VI Responship SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02
Rumah Pohon Penyelamat
Ada sebuah perumahan di kota Jakarta. Disana tinggal-lah seorang anak yang bernama Cilcia. Cilcia tinggal bersama bundanya yang bernama Puji.
Pada suatu hari, saat Cilcia sedang melamun, hujan turun dengan sangat deras. Cilcia segera membangunkan bundanya yang sedang tertidur pulas.
“Bunda..bangun!”kata Cilcia.
“Iyaa, memangnya kenapa?”tanya bunda dengan setengah tidur.
“Hujan turun, Cilcia takut kalau nanti banjir”jawab Cilcia.
“Oh, kalau begitu tolong selamatkan barang-barangmu yang paling berharga”kata bunda lagi.
“Sip bunda!”jawab Cilcia.
Satu jam kemudian, hujan masih belum reda. Tiba-tiba ada seorang warga yang berteriak.
“Banjir!Banjir!”
Aku segera keluar dari rumah dan naik ke rumah pohon yang berada di sebelah rumahku. Aku pun mengajak bunda untuk naik ke rumah pohon. Beberapa jam kemudian, akhirnya banjir pun mulai surut. Aku segera keluar dari rumah dan membantu bunda mengepel lantai rumahku.
“Cilcia, untung kamu mengingatkan bunda”kata bunda sambil mengepel lantai yang kotor bekas terkena banjir.
“Iya bun, tapi aku juga kasian sama orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri”kata Cilcia.
“Tapi kita selamat karena ada rumah pohon”kata bunda.
“Karena Allah swt bun, baru rumah pohon”kata Cilcia mengoreksi kalimat bundanya.
“Oh iya ya Cil”kata bunda sambil menepuk dahinya.
Akhirnya merekapun tertawa bersama-sama sambil melanjutkan mengepel lantai rumahnya yang sangat berantakan itu. (Aisyah Qoulan S)
Pada suatu hari, saat Cilcia sedang melamun, hujan turun dengan sangat deras. Cilcia segera membangunkan bundanya yang sedang tertidur pulas.
“Bunda..bangun!”kata Cilcia.
“Iyaa, memangnya kenapa?”tanya bunda dengan setengah tidur.
“Hujan turun, Cilcia takut kalau nanti banjir”jawab Cilcia.
“Oh, kalau begitu tolong selamatkan barang-barangmu yang paling berharga”kata bunda lagi.
“Sip bunda!”jawab Cilcia.
Satu jam kemudian, hujan masih belum reda. Tiba-tiba ada seorang warga yang berteriak.
“Banjir!Banjir!”
Aku segera keluar dari rumah dan naik ke rumah pohon yang berada di sebelah rumahku. Aku pun mengajak bunda untuk naik ke rumah pohon. Beberapa jam kemudian, akhirnya banjir pun mulai surut. Aku segera keluar dari rumah dan membantu bunda mengepel lantai rumahku.
“Cilcia, untung kamu mengingatkan bunda”kata bunda sambil mengepel lantai yang kotor bekas terkena banjir.
“Iya bun, tapi aku juga kasian sama orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri”kata Cilcia.
“Tapi kita selamat karena ada rumah pohon”kata bunda.
“Karena Allah swt bun, baru rumah pohon”kata Cilcia mengoreksi kalimat bundanya.
“Oh iya ya Cil”kata bunda sambil menepuk dahinya.
Akhirnya merekapun tertawa bersama-sama sambil melanjutkan mengepel lantai rumahnya yang sangat berantakan itu. (Aisyah Qoulan S)
Jumat, 20 November 2009
Sarangan Adventure…It’s Wonderfull
Sarangan Adventure…It’s Wonderfull
(By. Anang Utama, S.Pd)
Selasa 23 Juni 2009. Sebuah Sepeda motor Honda New Supra Fit keluaran 2005, meluncur dengan santai menapaki jalanan hot mix yang lengang dan sejuk di pegunungan Lawu. Sepasang suami istri tampak menikmati suasana tersebut. Sesekali terdengar canda tawa yang segar, “Bi..pelan-pelan yaa Bi, kita nikmati suasana yang sejuk dan menyegarkan ini”.
Motor tersebut melaju terus melalui jalan menanjak yang melingkar seperti layaknya seokor ular raksasa. Pada sisi jalan terdapat rangkaian pohon cemara yang menjuntai dan berkibar diterpa sejuknya sang bayu yang berhembus semilir diantara celah ranting dan dedaunan. Hmm…Subhanallah…terasa semakin indah ketika terhampar sebuah ngarai tinggi dengan rimbun kehijauan dan hamparan kota Solo nun jauh dibawah, disertai rangkaian pegunungan sang Merbabu yang menghijau dan Merapi yang memerah karena kumpulan lahar keaktifannya akhir-akhir ini. Hhmm…Its wonderful…Allahu a Great….Allah Has Given Us Much Enjoynment.
Persneleng gigi roda berubah pada speed tiga dan mampu membawa motor beserta penumpangnya berjalan menanjak. Sang motor terlihat cukup tangguh dengan mesin 100 ccnya yang telah teruji berkali-kali perjalanan Solo-Purwokerto berjarak sekitar 250 Km. Vila-vila Tawang Mangu mulai menyembul diatas perbukitan dengan berbagai model yang menawarkan kesan eksotisnya.
Melalui kota Tawangmangu yang dingin dan berkabut, dengan nuansa kemerahan pada wajah para penghuninya akibat menahan hawa dingin selama hidupnya. Keadaan tersebut memberikan rasa kedamaian dalam hati dengan suasana naturalis yang selalu tertegun dan termangu atas kebesaran Sang Pencipta. Disebelah Timur Menjulang dengah gagahnya Argo Lawu yang terselimuti awan tebal memberikan suasana redup pada pukul 13.30 WIB.
Keadaan jalan terus menanjak, tanpa sadar jurus pamungkas sang motor dikeluarkan pada speed satu. Kondisi jalan sangat menanjak mendekati 40 derajat. Jantung hati kebat-kebit, sebuah new experience melalui medan yang super menantang. Spedo meter menunjukan angka 20 km/jam…ooo sangat lambat dan semakin berkurang mendekati angka 15 Km/jam dengan getaran mesin yang semakin terasa, tetapi masih berenergi. Jalanan berubah menyempit dengan tipe B (4 meter) semakin naik dan naik, ….ooo….seramm.
Sampai pada titik puncak ketinggian jalan, diantara keraguan apakah diteruskan atau kembali, jika kembali berarti kehilangan salah satu tantangan untuk mecapai tujuan. Jika diteruskan, terlihat medan yang lebih menantang yang membuat hati berdegup kencang. Ya Allah… kuatkan hati untuk meneruskan perjalananan ini dan merasakan betapa indahnya keagungan penciptaan-Mu.
Dengan kemantapan hati, diteruskanlah perjalanan indah dan menantang ini. Jalanan menurun 40 derajat sangat terjal, berliku seperti kelok keris. Suara sendawa sang istri berkali-kali, sebagai tanda mabuk perjalanan. Semakin turun dan terjal, semakin berdegup kencang dengan bayangan seandainya rem blong atau rantai putus… ya Allah. Speed turun kegigi satu, kekang rem semakin kuat, terdengar bunyi berdecit dari rem depan dan belakang yang menandakan semakin berkurangnya kampas rem. Suara mesin menggeram kencang diselingi teriakan sang istri, membuat suasana kaget dan tegang. Dzikir hati bertambah kuat, ya Allah..ya Allah…selamatkan perjalanan ini.
Sedikit terhibur, ketika beberapa sepeda motor jenis kharisma dan supra X cc 125 lewat dengan cukup lincah. Terbersit dalam pikiran, “mereka saja berani kenapa aku tidak…harus berani…harus berani”. Tetapi pikiran tegang kembali datang karena terbersit dalam hati, “lho…mereka orang daerah sini, otomatis tahu medannya..”.
Akhirnya dengan semangat penuh keberanian, sepeda motor tetap melaju dengan hati-hati dan waspada serta konsentrasi penuh melewati turunan terakhir yang super terjal dan berbahaya. Kemudian sampailah ditempat tujuan dan terbentanglah pemandangan Sarangan yang eksotis.
Sebuah telaga berwarna biru kehitaman dengan keliling sekitar 2 km. Disepanjang telaga tampak berjajar tenda-tenda kecil para penjaja sate kelinci yang menawarkan berbagai trik kenikmatannya. Dipinggir telaga banyak terdapat perahu wisatawan dan speed boat carteran yang kelihatannya cukup menarik dan digemari para pengunjung. Para pedagang souvenir dan makanan khas berjajar dikios-kios sepanjang garis pintu masuk dan keluar. Rimbunan hutan dan sebuah pulau kecil ditengah telaga menambah sejuk dan indah suasana pukul 14.00 WIB tersebut. Haaahhh…desahan keluar diselingi uap yang keluar dari mulut, menandakan rasa dingin sejuk saat itu. Dua porsi sate kelinci dengan harga 6000 rupiah tiap porsi disantap habis dengan kenikmatan yang luar biasa. Hangat, enak, lapar, takjub, gembira bercampur menjadi satu.
Berputar-butar disekitar telaga sambil mengabadikan berbagai pose berlatar belakang keindahan alam telaga Sarangan, membuat lupa bahwa waktu semakin merambat mendekati Ashar. Kemudian tersadar ketika kamera HP Nokia 1680 menunjukan tanda penuh sampai 58 gambar foto. Perjalanan dilanjutkan menuju ke kios makanan dan cenderamata, membeli oleh-oleh untuk buah hati tercinta.
Perjalanan pulang menuju ke kota Solo dilalui dengan memutar melalui kota Magetan, Ngawi dan Sragen. Perjalanan memberikan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari semangat menghadapi tantangan perjalanan, menikmati keagungan penciptaan Allah, berlibur, refreshing, uji ketangguhan sepeda motor, sampai mengenal daerah yang belum terjamah oleh badan ini.
New Supra Fit 100 cc terus melaju memasuki gerbang kota Solo tepat pukul 19.30. Sepedo meter menunjukan bahwa perjalanan telah menempuh jarak hampir 180 km dan telah menghabiskan bahan bakar sekitar tiga liter bensin. Alhamdulillah… tampak jembatan Bengawan Solo ada didepan mata. Sebuah pengalaman holiday yang tak terlupakan dan memberikan kesan tersendiri untuk diambil manfaatnya. Sebuah kesuksesan dapat diraih jika ada usaha dan semangat pantang menyerah disertai dengan doa kepada sang pencipta(Anang).
(By. Anang Utama, S.Pd)
Selasa 23 Juni 2009. Sebuah Sepeda motor Honda New Supra Fit keluaran 2005, meluncur dengan santai menapaki jalanan hot mix yang lengang dan sejuk di pegunungan Lawu. Sepasang suami istri tampak menikmati suasana tersebut. Sesekali terdengar canda tawa yang segar, “Bi..pelan-pelan yaa Bi, kita nikmati suasana yang sejuk dan menyegarkan ini”.
Motor tersebut melaju terus melalui jalan menanjak yang melingkar seperti layaknya seokor ular raksasa. Pada sisi jalan terdapat rangkaian pohon cemara yang menjuntai dan berkibar diterpa sejuknya sang bayu yang berhembus semilir diantara celah ranting dan dedaunan. Hmm…Subhanallah…terasa semakin indah ketika terhampar sebuah ngarai tinggi dengan rimbun kehijauan dan hamparan kota Solo nun jauh dibawah, disertai rangkaian pegunungan sang Merbabu yang menghijau dan Merapi yang memerah karena kumpulan lahar keaktifannya akhir-akhir ini. Hhmm…Its wonderful…Allahu a Great….Allah Has Given Us Much Enjoynment.
Persneleng gigi roda berubah pada speed tiga dan mampu membawa motor beserta penumpangnya berjalan menanjak. Sang motor terlihat cukup tangguh dengan mesin 100 ccnya yang telah teruji berkali-kali perjalanan Solo-Purwokerto berjarak sekitar 250 Km. Vila-vila Tawang Mangu mulai menyembul diatas perbukitan dengan berbagai model yang menawarkan kesan eksotisnya.
Melalui kota Tawangmangu yang dingin dan berkabut, dengan nuansa kemerahan pada wajah para penghuninya akibat menahan hawa dingin selama hidupnya. Keadaan tersebut memberikan rasa kedamaian dalam hati dengan suasana naturalis yang selalu tertegun dan termangu atas kebesaran Sang Pencipta. Disebelah Timur Menjulang dengah gagahnya Argo Lawu yang terselimuti awan tebal memberikan suasana redup pada pukul 13.30 WIB.
Keadaan jalan terus menanjak, tanpa sadar jurus pamungkas sang motor dikeluarkan pada speed satu. Kondisi jalan sangat menanjak mendekati 40 derajat. Jantung hati kebat-kebit, sebuah new experience melalui medan yang super menantang. Spedo meter menunjukan angka 20 km/jam…ooo sangat lambat dan semakin berkurang mendekati angka 15 Km/jam dengan getaran mesin yang semakin terasa, tetapi masih berenergi. Jalanan berubah menyempit dengan tipe B (4 meter) semakin naik dan naik, ….ooo….seramm.
Sampai pada titik puncak ketinggian jalan, diantara keraguan apakah diteruskan atau kembali, jika kembali berarti kehilangan salah satu tantangan untuk mecapai tujuan. Jika diteruskan, terlihat medan yang lebih menantang yang membuat hati berdegup kencang. Ya Allah… kuatkan hati untuk meneruskan perjalananan ini dan merasakan betapa indahnya keagungan penciptaan-Mu.
Dengan kemantapan hati, diteruskanlah perjalanan indah dan menantang ini. Jalanan menurun 40 derajat sangat terjal, berliku seperti kelok keris. Suara sendawa sang istri berkali-kali, sebagai tanda mabuk perjalanan. Semakin turun dan terjal, semakin berdegup kencang dengan bayangan seandainya rem blong atau rantai putus… ya Allah. Speed turun kegigi satu, kekang rem semakin kuat, terdengar bunyi berdecit dari rem depan dan belakang yang menandakan semakin berkurangnya kampas rem. Suara mesin menggeram kencang diselingi teriakan sang istri, membuat suasana kaget dan tegang. Dzikir hati bertambah kuat, ya Allah..ya Allah…selamatkan perjalanan ini.
Sedikit terhibur, ketika beberapa sepeda motor jenis kharisma dan supra X cc 125 lewat dengan cukup lincah. Terbersit dalam pikiran, “mereka saja berani kenapa aku tidak…harus berani…harus berani”. Tetapi pikiran tegang kembali datang karena terbersit dalam hati, “lho…mereka orang daerah sini, otomatis tahu medannya..”.
Akhirnya dengan semangat penuh keberanian, sepeda motor tetap melaju dengan hati-hati dan waspada serta konsentrasi penuh melewati turunan terakhir yang super terjal dan berbahaya. Kemudian sampailah ditempat tujuan dan terbentanglah pemandangan Sarangan yang eksotis.
Sebuah telaga berwarna biru kehitaman dengan keliling sekitar 2 km. Disepanjang telaga tampak berjajar tenda-tenda kecil para penjaja sate kelinci yang menawarkan berbagai trik kenikmatannya. Dipinggir telaga banyak terdapat perahu wisatawan dan speed boat carteran yang kelihatannya cukup menarik dan digemari para pengunjung. Para pedagang souvenir dan makanan khas berjajar dikios-kios sepanjang garis pintu masuk dan keluar. Rimbunan hutan dan sebuah pulau kecil ditengah telaga menambah sejuk dan indah suasana pukul 14.00 WIB tersebut. Haaahhh…desahan keluar diselingi uap yang keluar dari mulut, menandakan rasa dingin sejuk saat itu. Dua porsi sate kelinci dengan harga 6000 rupiah tiap porsi disantap habis dengan kenikmatan yang luar biasa. Hangat, enak, lapar, takjub, gembira bercampur menjadi satu.
Berputar-butar disekitar telaga sambil mengabadikan berbagai pose berlatar belakang keindahan alam telaga Sarangan, membuat lupa bahwa waktu semakin merambat mendekati Ashar. Kemudian tersadar ketika kamera HP Nokia 1680 menunjukan tanda penuh sampai 58 gambar foto. Perjalanan dilanjutkan menuju ke kios makanan dan cenderamata, membeli oleh-oleh untuk buah hati tercinta.
Perjalanan pulang menuju ke kota Solo dilalui dengan memutar melalui kota Magetan, Ngawi dan Sragen. Perjalanan memberikan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari semangat menghadapi tantangan perjalanan, menikmati keagungan penciptaan Allah, berlibur, refreshing, uji ketangguhan sepeda motor, sampai mengenal daerah yang belum terjamah oleh badan ini.
New Supra Fit 100 cc terus melaju memasuki gerbang kota Solo tepat pukul 19.30. Sepedo meter menunjukan bahwa perjalanan telah menempuh jarak hampir 180 km dan telah menghabiskan bahan bakar sekitar tiga liter bensin. Alhamdulillah… tampak jembatan Bengawan Solo ada didepan mata. Sebuah pengalaman holiday yang tak terlupakan dan memberikan kesan tersendiri untuk diambil manfaatnya. Sebuah kesuksesan dapat diraih jika ada usaha dan semangat pantang menyerah disertai dengan doa kepada sang pencipta(Anang).
Langganan:
Postingan (Atom)